Kamis, 27 Oktober 2011

contoh laporan observasi


BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan harapan setiap insan manusia. Di samping sebagai harapan, pendidikan juga merupakan dasar proses berkembangnya individu ebagai bekal dalam proses perjalanan kehidupan yang beragam dan proses penyesuian diri terhadap perkembangan jaman dan lingkungan yag sangat kompleks
            Pendidikan sebagai bekal mempunyai banyak peranan. Guna melaksanakan peranan. Guna melaksanakan perananini, maka dibutuhkan banyak komponen yang menunjung proses pembelajaran secara optimal dan signifikan.
             Pendidikan mempunyai kajian yang sangat luas. Dalam pda itu, salah satu bagian dalam pendidikan yaitu pendidikan khusus sebagaimana dilakukan pada tingkat satuan pendidikan yang melayani anak berkebutuhan khusus. Proses pembelajaran yang berdiferensiasi  dengan memperhatikan kemampuandan bakat tiap peserta didik pada satuan pendidikan seiring dengan amanat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai benih pengembangan terhadap anak berkebutuhan khusus diharapkan dapat mengembangkan dan menunjanjukan kelebihan di samping kekurangan sebagai anak berkebutuhan khusus di samping individu umum lainnya.
             Pelayanan pendidikan yang diberikan di sekolah luar biasa mempunyai standar pelayanan tertentu terhadap tiap peserta didiknya. Standar pelayanan pada sekolah luar biasa mempunyai beberapa standar kategori tertentu sebagaimana contohnya mengenai srana dan prasrana yang ditenukn dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 33 Tahun 2008.

B.     PERMASALAHAN
            Proses pembelajaran pada tiap satuan pendidikan tidak akan pernah dapat disamakan sebagaimana dituangkan dalam Kurikulum konvensional yang telah anyak direvisi melalui kurikulum saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Stuan Pendidikan. Dalm pada itu, Pelayanan pada tingkat satuan pendidikan khususnya Anak Berkebutuhan khusus tidak sama.

C.METODE PENGUMPULAN DATA
Dalam proses pengumpulan data, kami tidak melakukan sendiri dalam hal ini. Sebagaimana kelompk yang dibentuk terdiri atas 5 orang.Adapun metode yang dilakukan dalam proses pengumpulan data yang optimal antara lain;
-   Observasi lapangan, dengan melihat dan mengamati keadaan, fasilitas penunjang, media dan proses pembelajaran siswa-siswa SLB –C Pembina dan  SLB –A fajar Harapan.
-   Interview, dengan melakukan wawancara dengan pihak terkait dalam hal ini yaitu Murid dan staf pengajar di SLB –C Pembina dan  SLB –A fajar Harapan.
-   Study Literatur, dengan mencari referensi-referensi di perpustakaan maupun pada jaringan internet mengenai materi-materi seputar layanan anak berkebutuhan khusus.



D.    TUJUAN PENULISAN
Tujuan didisusun dan ditulisnya laporanini salah satunya untuk menambah referensi dalam hal pelayanan anak berkebutuhan khusus. Bila kita melihat dan membuka mata dan hati kita, sngatlah beragam hal akanditemukan pada dunia anak dan peserta didik tingkat dasar baik dalam proses pembelajaran, perkembangan dan kematangan dan pergaulan mereka.
Selain itu laporan hasil observasi ini di tulis untuk memenuhi tugas mata kuliah ortopedagogig 2.











BAB 2
ISI


A.    SLB – C Pembina
 2.1 Bagian Kesiswaan
Anak yang lainnya, Seperti anak yang tergolong tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, autis dan hiperaktif. Dengan jumlah guru SLB yang minim maka sekolah menerima guru umum Pada tahun ajaran baru SLB C Negeri Pembina tidak hanya menerima anak yang tergolong C, tetapi juga menerima serta melakukan observasi bagi guru tersebut.
SLB C juga memiliki ekstrakurikuler yang sangat didukung oleh orang tua murid seperti kepramukaan, olah raga. dalam kepramukaan layanannya disesuaikan dengan kebutuhan anak dan untuk mempermudah kegiatan disesuaikan dengan kemampan anak. Misalkan persami di SLB C Pembina yang sangat didukung oleh orang tua murid karena memberikan pembelajaran tentang lingkungan dan kemandirian.

2.2 Bagian Sarana Prasarana
            SLB – C Negeri Pembina Provinsi Kalimantan Selatan adalah suatu tempat latihan kerja terlindung bagi siswa berkebutuhan khusus tingkat SMPLB, SMALB dan anak- anak yang telah tamat belajar pada SMPLB maupun SMALB yang memerlukan layanan khusus sebagai persiapan sebelum mereka terjun ke dunia kerja .
SLB – C Negeri Pembina Provinsi Kalimantan Selatan diharapkan dapat :
  • Memberikan bekal keterampilan keahlian bagi siswa luar biasa/siswa berkebutuhan khusus sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan PLB dengan maksud agar tamatan SMPLB dan SMALB memiliki bekal keterampilan yang telah siap memasuki dunia kerja.
  • Acuan yang digunakan adalah kurikulum PLB Berbasis Kurikulum Keterampilan SLB – C Negeri Pembina Provinsi Kalimantan Selatan yang memberikan kesempatan bagi siswa SMPLB dan SMALB untuk mengembangkan kompetensinya seoptimal mungkin dan setinggi mungkin kearah untuk mendapatkan pekerjaan yang berguna untuk hidup mandiri di masyarakat dan mampu bersaing di era globalisasi.
  • Kurikulum PLB Berbasis Kurikulum Keterampilan SLB – C Negeri Pembina Provinsi Kalimantan Selatan memiliki kompetensi sebagai berikut :
          SMPLB 52 % ( keterampilan )
                        48 % ( akademis )
          SMLB   62 % ( keterampilan )
                        38 % ( akademik )

Ruang lingkup Bengkel Kerja PLB pada
SLB – C Negeri Pembina Provinsi Kalimantan Selatan antara lain :
1.Tingkat SMPLB :
    a. Otomotif/Perbengkelan Motor
    b. Musik
    c. Tata Boga
    d. Kerajinan Kayu
    e. Akupuntur
    f. Tata Rias kecantikan
    g. ICT
    h. Sasirangan
    i. Elektronik
    j. Prog.Pengembangan Diri

2.Tingkat SMALB :
    a. Otomotif/Perbengkelan Motor
    b. Musik
    c. Tata Boga
    d. Kerajinan Kayu
    e. Akupuntur
    f. Tata Rias kecantikan
    g. ICT
    h. Sasirangan
    i. Elektronik
    j. Prog.Pengembangan Diri

Dalam melaksanakan program paket keterampilan SLB – C Negeri Pembina Provinsi Kalimantan Selatan ditunjang oleh sarana dan prasarana berupa :

    1. Kantor
    2. Ruang Teori Keterampilan
    3. Ruang Alat
    4. Ruang Praktek Keterampilan
    5. Ruang Pamer ( Show Room )
    6. Gudang
    7. Toilet
    8. Halaman yang luas dan sejuk


2.3 Pendekatan terhadap masyarakat
1.      Pada anak tunagrahita pendekatan kemasyarakat dimaksimalkan dengan orang tua dahulu kemudian dimaksimalkan dengan teman sebaya kemudian masyarakat.
2.     Pada anak tunagrahita berat yang cenderung pemalu digunakan metode humanistik.
3.      Pendekatan dibagi atas beberapa tahap yang disesuaikan dengan kondisi si anak.  
4.      Metode selain humanistik ada juga yang menggunakan metode out bond dengan cara mengadakan perkemahan dilingkungan masyarakat agar terjadi interaksi dengan masyarakat tersebut dan juga melaih kemandirian.
5.      Metode digunakan secara umum dan bertahap sesuai kemampuan murid.

2.4 Minat dan Bakat
1.      Assessment sedini mungkin (ketika anak tersebut mulai tertarik pada sesuatu yang dia sukai misalnya menyanyi, melukis, otomotif, komputer, dan sebagainya)
2.      ketika SMP sudah melakukan tindak lanjut terhadap bakat yang mereka miliki, guru mulai mengarahkan terhadap keterbakatan yang dimiliki
3.      ketika SMA, guru sudah mendidik yang menjurus keterbakatan mereka tetapi tanpa melupakan akademisnya.
4.      Ketika lulus dari sekolah dan sudah menguasai keterbakatan merekja yang khususnya di bidang mekanik, kerajinan kayu (meubel), tata boga, maka sekolah akan menyerahkan kepada HUMAS agar mereka dapat bekerja seperti orang pada umumnya.

B.     SLB A FAJAR HARAPAN

2.1 Kesiswaan
            Hampir semua yang masuk di SLB A Fajar Harapan adalah tunanetra yang dalam kategori total maupun low vision. Perekrutan siswa untuk masuk SLB A Fajar Harapan harus melalui beberapa klasifikasi juga seperti sekolah pada umumnya, yaitu apakah masih layak untuk masuk sekolah umum atau memang diharuskan masuk ke SLB.


2.2 Sarana Prasarana.
Dalam melaksanakan programnya SLB A Fajar Harapan di tunjang oleh saran Prasarana berupa :

·         Ruang Tamu
·         Ruang Sekretariat 
·         Ruang Kantor Pengurus 
·         Ruang Belajar Teori 
·         Ruang Praktek Keterampilan 
·         Ruang Bermain/Belaja
·         Ruang Serbaguna
·         Ruang Usaha/Produksi 
·         Ruang Perpustakaan/TBM
·         Ruang Penjaga/Satpam 
2.3 Pendekatan terhadap masyarakat
1.      Metode yang digunakan untuk memandirikan anak secara umum sama dengan anak yang tidak menyandang ketunaan.
2.      Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan menjadi acuan dalam memandirikan anak serta membuat anak bisa berbaur dengan masyarakat.

2.4 Minat Dan Bakat
1.      Minat dan bakat setiap individu berbeda, tapi pembimbing cenderung mengarahkanya dalam hal kerajinan tangan antara lain membuat kemoceng, keset dan lain-lain.
2.      Pembimbing juga cenderung mengarahkan yang pada umumnya keahlian dimiliki tunanetra yaitu memijat.
3.      Pembimbing juga melatih tunanetra untuk bisa memainkan alat musik mulai dari music modern sampai tradisional.






BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Layanan anak berkebutuhan khusus mempunyai standar pelayanan minimal yang harus dipenuhi oleh tiap-tiap satuan pendidikan yang melaksanakan pelayanan di bidang ini. Proses pembelajaran yang mendukung dan memperhatikan proses perkembangan karakteristik peserta didik harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik itu sendiri.

Oleh karena itu, pemerintah harus ikut serta dalam hal perkembangan-perkembangan Sekolah Luar Biasa agar seseorang yang memiliki perbedaan dari orang pada umumnya mendapatkan porsi yang sama dan fasilitas yang sama dalam hal pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar