Kamis, 27 Oktober 2011

MENGENAL HELEN KELLER


Tuli dan buta, keajaiban terbesarnya adalah keyakinannnya bahwa ia – dan semua orang cacat – seharusnya diperlakukan selayaknya manusia. Kisah mengenai Helen Keller telah menjadi legenda Amerika. Bahkan anak sekolah pun mengetahui kisah dari lepasnya Helen dari isolasi kebisuannya saat ia berada di dekat pompa air di rumah keluarganya, seperti yang didramatisir di atas panggung dan layar lebar dalam The Miracle Worker

Namun perjuangan Helen yang terbesar dimulai ketika kisah itu berakhir. Seperti yang kemudian disadarinya, tantangan terbesarnya bukan dalam belajar berkomunikasi; tantangan terbesarnya adalah perjuangan sepanjang hidupnya agar benar-benar diterima sebagai manusia, tidak peduli apa pun kekurangannya.

Helen Keller adalah bayi yang cepat tanggap dan periang. Orangtuanya, tuan tanah yang kaya di masa setelah Perang Sipil Alabama, menyombongkan tanda-tanda kecerdasan alaminya, bahkan mengaku kalau kata-kata pertama yang diucapkan Helen pada usia enam bulan adalah, “Apa kabar?”.

Namun setelah ia terserang demam skarlatina (scarlet fever) pada usia 18 bulan, orang tuanya khawatir atas perubahan pada dirinya. Cahaya yang terang menyakiti matanya, beberapa hari kemudian, ia tidak memberikan respons atas cahaya atau bentuk sama sekali. Tak lama setelah itu, jelaslah bahwa Helen tidak saja telah kehilangan penglihatan tetapi juga pendengarannya. Ketika ia makin dipenuhi oleh kesunyian, ia juga kehilangan kemampuan berbicaranya.
Helen tidak mampu mendengarkan kata-kata orangtuanya, baik lembut maupun keras, ia berubah menjadi orang liar. Karena tidak dapat mengungkapkan rasa frustrasinya, ia melampiaskan perasaannya itu lewat pukulan dan serangan yang tak terkendali jika ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, dan ia makin menjadi-jadi karena orang tuanya makin enggan mendisiplinkannya. Para kerabat dekat tidak melihat alternative lain selain memasukkan gadis itu ke rumah sakit jiwa , tempat ia dirawat seolah-olah ia mengalami gangguan mental atau jiwa.

Masih saja, anak yang diam itu tidak menunjukkan kalau ia mengalami gangguan mental. Pada usia 5 tahun, ia telah menemukan system bahasa isyaratnya sendiri, ada enam gerakan termasuk “Ibu”, “Ayah”, “Roti”, dan “Permen”. Dengan keyakinan kalau Helen dapat dididik, ibunya membawanya menemui Alexander Graham Bell, yang saat itu menangani orang-oran tunarungu. Melalui serangkaian rekomendasi, lulusan muda dri Parkins School for the Blind (Sekolah untuk Orang Buta) di Boston, Annie Sullivan, diutus ke daerah selatan untuk menjadi guru privat Helen.

Dalam diri Helen, Annie melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain: seorang gadis kecil, sama seperti anak lainnya. Ia menolak memanjakan atau memaklumi sikap buruknya. Ia mendisiplinkan Helen dengan keras, bahkan mengajar Helen pada suatu siang agar duduk dan makan dengan garpu setelah sepanjang hidupnya mengambil makanan dari piring orang lain. Meskipun demikian Annie tidak selalu menang.; baru seminggu mendidik Helen, ia kehilangan dua gigi depannya.

Annie mengajari Helen bahasa isyarat, mengeja huruf di tangan gadis itu. Helen lapar akan stimulasi mental, Belajar dengan cepat apa yang dianggapnya permainan dan mengingat kombinasi-kombinasi huruf. Namun ia nampaknya tidak memahami kalau kombinasi ini menciptakan kata, dan kata-kata itu memiliki arti yang berhubungan dengan objek dan ide. Itu mirip seperti permainan Batu-Kertas-Gunting.

Baru ketika Annie memegang tangan Helen di bawah air yang mengalir dari pompa dan terus mengeja “water(air)”, Helen memahami kata itu. Helen akhirnya mengerti w-a-t-e-r adalah apa yang pernah disebutnya “wa-wa” sebelum ia terserang demam, dan w-a-t-e-r ini dingin, basah, benda yang muncrat ditangannya. Bahasa adalah pelariannya dari kegelapan , isoasi bisunya dan ia bersemangat mempelajari lebih banyak lagi kata. Di penghujung hari itu, ia telah mengerti 30 kata. Dalam tiga minggu berikutnya, ia telah menguasai 300 kata.

Teman, keluarga dan tetangga tertegun dengan transformasi tersebut dan berita tentang keberhasilan Helen langsung menyebar uas di negeri itu. Ketika ia mengunjungi kembali Graham Bell di tahun berikutnya, ia mengatakan, “Pencapaiannya tidak ada hubungan dengan pendidikan untuk tunarungu.” Perjalanan itu diikuti oleh kunjugan bersama Presiden Brover Cleveland. Pada usia 12 tahun, Helen telah menjadi orang terkenal di dunia, bahkan Mark Twain, John D. Rockefeller, Andrew Carnegie, Ratu Inggris Victoria, dan Ratu Olga dari Yunani menjadi pengagumnya.

Helen dielu-elukan karena pencapaiannya luar biasa, tetapi meskipun ia bekerja keras dan memiliki jiwa pejuang, beberapa orang masih melihatnya sebagai orang yang tidak berdaya dan lemah. Helen menolak label ini; sebenarnya ketidak mampuannya itu justru menjadi sumber kekuatannya: “Saya bersyukur pada Tuhan atas ketikdaksempurnaan ini, karena melalui hal itu, saya telah menemukan diri, pekerjaan dan Tuhan saya.” Ketika Annie menyadari bahwa Helen membutuhkan pendidikan lebih dari yang bisa diberikan oleh Annie, mereka memutuskan agar Helen melanjutkan ke Perkins School for the Blind, tempat Annie bersekolah selama beberapa musim dingin. Di tempat ini Helen tidak hanya menguasai pelajaran dalam bahasanya sendiri, tetapi juga dalam bahasa Perancis, Yunani dan Latin., Dan ketika mimpi untuk bersekolah di universitas memberikan secercah harapan , ia melanjutkan pendidikan SMA-nya di Cambridge agar ia dapat bersekolah di dekat sekolah impiannya, Radcliffe, universitas yang masih berhubungan dengan Harvard.

Disekolah Cambridge, Helen menenggelamkan dirinya dalam pelajaran dengan antusiasme yang sama bahkan usaha yang lebih keras, karena sekolah ini tidak memiliki fasilitas untuk orang tuli dan buta. Dengan Annie di sampingnya, Helen bekerja keras mempersiapkan diri untuk test masuk. Namun kepala sekolah khawatir kalau gadis itu tidak akan mampu memenuhi tantangan itu. Ia menyalahkan Annie karena mendorongnya terlalu keras dan tidak memikirkan kecacatan Helen dengan serius. Apa yang diperlukan Helen, dalam anggapannya, adalah untuk memperlambat langkahnya dan menurunkan harapannya sedikit. Ketika Annie protes, dengan kasar ia memisahkan mereka berdua dan menulis pada ibu Helen bahwa Annie dengan nekat membahayakan kesehatan putrinya. Nyonya Keller segera ke Cambrodge untuk menilai situasi tersebut dan mendengarkan permintaan Helen, menariknya dari sekolah itu dan mempertemukan kembali dengan Annie. Helen menjalankan sisa persiapan dengan belajar mandiri tetapi dengan kerja keras yang sama.

Helen merasa makin kecewa dengan perlakuan yang diterimnya di Radcliffe. Setelah lolos test masuk dan menerima khususnya nilai tinggi untuk test bahasa Latinnya, pimpinan penerimaan murid baru menemuinya secara pribadi. Sekali lagi, sekolah khawatir kalau kurikulum akan terlalu sulit untuk siswa buta dan tuli. Mereka tidak suka melihat Helen berkerja dua kali lebih keras dari siswa lain hanya untuk gagal. Mereka menolak Helen pada tahun 1899.
Helen merasa hancur tetapi tetap bertekad. Ketika Cornell University dan setelah University of Chicago menerimanya dan malah memberinya beasiswa, ia menolak dan mempersiapkan diri untuk menghadapi test masuk Radiffe selanjutnya. Tahun berikitnya mensyaratkan nilai yang tinggi agar dapat masuk, dan Helen diterima pada tahun 1900. Ia tidak hanya lulus dengan pujian tetapi juga menuliskan pengalamannya, The Story of My Life dan berusaha tidak pernah absen dari kelas. Buku tersebut mendapatkan pujian kritis dan menjadi buku laris dunia.

Helen menghabiskan sisa hidupnya dengan berjuang menerima tantangan seperti dihadapi oleh orang-orang normal lainnya, ia berkata dengan tegas, “Kehidupan adalah petualangan yang gagah berani atau bukan apa-apa.” Helen belajar mengendarai sepeda, mengendarai kuda dan berkemah. Ia memilih pendirian politik yang kontoversial, secara terbuka bergabung dalam usaha mendapatkan hak pilih bagi kaum perempuan, paham cinta damai dan sosialisme, meskipun ia disaraankan agar tetap diam.

Ketika mengalami kesulitan keuangan, ia dan Annie melakukan berbagai pekerjaan yang dianggap vulgar oleh kerabat Helen, dengan melakukan acara rutin tanya-jawab yang sangat popular kepada masyarakat Amerika seputar perjuangan Helen.

Ketika penglihatan Annie makin melemah untuk menjadi pengasuhnya, Helen kembali mendedikasikan dirinya untuk hak-hak para penyandang cacat. Ia menolak tawaran penerbit untuk menulis lebih banyak pengalamannya, dan malah bepergian keliling dunia, bertemu dengan Albert Einstein, Wiston Chuschill, Kaisar Jepang dan setiap presiden Amerika pada masanya. Melalui contoh pribadiny dan penampilannya di depan public, Helen berusaha lebih keras dari aktivis lainnya dalam mengubah persepsi, pendidikan dan perlakuan terhadap orang cacat di dunia.
Setelah kematian Annie, Helen menulis biografi sahabatnya itu, tetapi naskah yang hamper selesai hangus dalam kebakaran tahun 1946., Dalam pernyataan terakhir atas kegigihan Annie, Helen memulai lagi dari awal. Ia menerbitkan Teacher: Annie Sullivan Macy pada tahun 1955. Tiga belas tahun kemudian, Helen dimakamkan di samping sahabat sekaligus gurunya di National Cathedral Washington DC.

Metode Mengajar Segmentasi



Metode Mengajar Segmentasi
Segmentasi adalah metode mengajar yang cocok untuk diterapkan dalam pengajaran ilmu sosial maupun ilmu pasti. Metode mengajar ini akan membantu murid memperbaiki kemampuan membaca dan menulis mereka. Selain itu, kemampuan murid untuk mengingat kembali materi yang diajarkan juga akan meningkat melalui metode segmentasi ini.
Metode segmentasi sangat mudah diterapkan karena sebagian besar aktivitas dilakukan oleh murid. Sedangkan guru lebih berperan sebagai koordinator. Aktivitas yang akan dilakukan murid dalam kelas akan terdiri dari membaca, menulis dan membahas materi yang diajarkan.
Proses mengajar segmentasi dimulai dengan membagi aktivitas dalam kelas menjadi lima tahap, yaitu :
1) Pengajaran
2) Tugas Membaca
3) Latihan Menulis
4) Diskusi
5) Analisa Diskusi.
Masing-masing aktivitas diberi jatah waktu yang tidak terlalu lama, sehingga untuk pelajaran dengan durasi satu jam pun guru tetap bisa menerapkan metode segmentasi ini.
Kelas pelajaran dimulai dengan pengajaran singkat dari guru yang menjelaskan kerangka / garis besar dari pelajaran yang akan dipelajari saat itu. Usahakan agar tahap ini tidak memakan waktu lama.
Setelah itu, mintalah murid untuk membaca materi yang dipelajari selama kurang lebih 10 menit. Beberapa materi penting dapat dimintakan untuk dibaca oleh seorang murid dengan suara nyaring, dan murid yang lain mengikuti dalam hati.
Aktivitas membaca dilanjutkan dengan “Latihan Soal” dengan model “essay” yang harus selesai dalam waktu 10 menit. Jumlah soal tidak perlu banyak, cukup 1 –3 soal saja. Soal yang diberikan diambil dari materi yang dibaca dalam session membaca. Karena materi yang dibaca tidak banyak, maka jawaban essay yang diberikan juga pasti akan pendek. Sehingga guru harus merancang suatu bentuk soal yang jawabannya merupakan kesimpulan dari materi yang dibaca. Murid juga didorong untuk membaca ulang kembali materi yang dibacanya untuk memastikan keakuratan jawaban yang diberikan.
Setelah setiap murid menyelesaikan jawaban, guru kemudian meminta setiap 4-6 murid untuk membentuk satu grup tersendiri. Kemudian, masing-masing murid ditugaskan untuk membacakan jawaban mereka dengan suara keras dihadapan anggota grup lainnya. Setelah semua anggota mendapat giliran, maka setiap grup harus mendiskusikan jawaban yang paling terbaik untuk dipresentasikan didepan kelas di hadapan grup-grup lainnya. Dengan adanya session diskusi ini maka murid dapat memperdebatkan aneka ragam jawaban dan sekaligus mendorong murid untuk lebih menghargai materi pelajaran. mempelajari materi pelajaran. Selain itu, dengan membacakan masing-masing jawaban, merupakan sarana bagi murid untuk memperbaiki cara menulis mereka.

JENIS-JENIS TERAPI AUTIS


JENIS-JENIS TERAPI AUTIS

1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.


2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.

Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.


3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.


4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.


5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.


6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.


7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,


8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.


9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.


10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).

MAKALAH KESEHATAN TENTANG AUTIS


MAKALAH KESEHATAN TENTANG AUTIS

BAB I
PENDAHULUAN

2.1 Pengertian Autisme
Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang autisme seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Instilah autisme diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan ini sudah ada sejak berabad-abad yang lampau.
Dahulu dikatakan autisme merupakan kelainan seumur hidup, tetapi kini ternyata autisme masa kanak-kanak ini dapat dikoreksi. Tatalaksana koreksi harus dilakukan pada usia sedini mungkin, sebaiknya jangan melebihi usia 5 tahun karena diatas usia ini perkembangan otak anak akan sangan melambat. Usia paling ideal adalah 2-3 tahun, karena pada usia ini perkembangan otak anak berada pada tahap paling cepat. Menurut Mudjito, autisme adalah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sensoris, pola bermain dan emosi. Dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan yang khususnya terjadi pada masa kanak-kanak yang membuat seseorang tidka mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

2.2 Faktor Penyebab Autisme
Sampai saat ini para ahli belum menentukan penyebab pasti mengapa seorang anak menjadi autisme. Beberapa ahli berpendapat autisme merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti:
a. Faktor genetik
diduga karena adanya kromosom (ditemukan 5-20% penyandang autisme) seperti kelainan kromosom yang disebut syndrome fragile-x/
b. Kelainan otak
adanya kerusakan atau berkurangnya jumlah sel syaraf yang disebut sel purkinye.

c. Kelainan Neurotransmitter
terjadi karena impuls listrik antar sel terganggu alirannya. Neurotransmitter yang diduga tersebut adalah serotine (kadarnya tinggi dalam darah ± 30% penyandang autisme) dan dopamine (diduga rendah kadar darahnya pada penyandang autisme)
d. Kelainan Peptida di otak
dalam keadaan normal, glutein (protein gandum) dan kasein (protein susu) dipecah dalam usus menjadi peptida dan asam amino. Sebagian kecil peptida tersebut diserap di usu dan kemudian beredar dalam darah. Bila berlebihan akan dikeluarkan melalui urin dan sebagian lainnya akan disaring kembali saat melewati batang otak sehingga yang masuk kedalam otak hanya sedikit (khususnya gliadorphin, turunan peptida glutein dan casomordophin turunan pepsida kasein).
e. Komplikasi saat hamil dan persalinan
komplikasi yang terjadi seperti pendarahan pada trimester pertama yaitu janin yang disertai terispnya cairan ketuban yang ebrcampur feses dan obat-obatan yang diminum ibu selama masa kehamilan.
f. Kekebalan tubuh.
Terjadi karena kemungkinan adanya interaksi gangguan kekebalan tubuh (autoimun) dengan faktor lingkungan yang menyebabkan autisme.
g. keracunan
keracunan yang banyak dicurigai adalah karena keracunan logam berat timah hitam (Plumbun), arsen, antimony, cadmium, dan merkuri yang berasal dari polusi udara, air ataupun makanan.

2.3 Gejala-gejala Autisme
Menurut DSM-IV (diagnostic and Statistical Manual) 1994, dari grup Psikiatri Amerika menetapkan kriteria untuk autisme masa kanak-kanak adalah sebagai berikut:
A. harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).
(1) gangguan kualitatif dalam interaski sosial yang timbal balik, minimal harus ada 2 gejala dari gejala-gejala dibawah ini :
a. tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai :
• kontak mata sangat kurang
• ekspresi muka kurang hidup
• gerak-gerik yang kurang tertuju
b. tak bisa bermain dengan teman sebaya
c. tak dapat merasakan apa yang dirasakan oranglain.
d. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik

(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, seperti ditunjukan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini:
a. bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara).
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.

(3) Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku, minat, dan kegiatan. Sedikitnya harus ada 1 dari gejala dibawah ini:
a. mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.
b. Terpaku pada satu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tak ada gunanya.
c. Ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang.
d. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
B. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang :
a. interaksi sosial,
b. bicara dan berbahasa,
c. cara bermain yang kurang variatif.

C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif masa kanak-kanak

Menurut ICD-10 1993 (International Classification of Diseases) dari WHO (World Health Organization), indikator perilaku autistik pada anak-anak adalah sebagai berikut :
1. Bahasa / komunikasi
• Ekspresi wajah datar
• Tidak menggunakan bahasa / isyarat tubuh.
• Jarang memulai komunikasi
• Tidak meniru aksi atau suara.
• Bicara sedikit atau tidak ada, atau mungkin cukup verbal.
• Mengulangi atau membeo kata-kata, kalimat-kalimat atau nyanyian
• Intonasi / ritme vokal yang naeh
• Tampak tidak mengerti arti kata
• Mengerti dan menggunakan kata secara terbatas / harfiah (literally, letterlyk)
2. Hubungan dengan orang lain
• Tak responsive
• Tak ada senyum sosial
• Tidak berkomunikasi dengan mata
• Kontak mata terbatas
• Tampak asyik bila dibiarkan sendiri
• Tidak melakukan permainan giliran
• Menggunakan tangan orang sewasa sebagai alat
3. hubungan dengan lingkungan
• bermain repetitive (diulang-ulang)
• marah atau tak menghendaki perubahan-perubahan
• berkembangnya rutinitas yang kaku (rigid)
• memperlihatkan ketertarikan yang snagat dan tak fleksibel
4. Respon terhadap rangsang indera / sensoris.
• Kadang seperti tuli
• Panik terhadap suara-suara tertentu
• Sangat sensitif terhadap suara.
• Bermain-main dengan cahaya atau pantulan.
• Memainkan jari-jari didepan mata.
• Menarik diri ketika disentuh
• Sangat tidak suka terhadap pakaian dan makanan,dll. Tertentu.
• Tertarik pada pola / tekstur / bau tertentu.
• Sangat inaktif atau hiperaktif.
• Mungkin memutar-mutar, berputar-putar, membentur-bentur kepala, menggigit pergelangan.
• Melompat-lompat atau mengepak-ngepakan tangan.
• Tahan atau berespon aneh terhadap nyeri.
5. kesenjangan perkembangan perilaku
• Kemampuan mungkin sangat baik atau sangat terlambat
• Mempelajari keterampilan di luar urutan normal, misalnya : membaca tetapi tak mengerti arti.
• Menggambar secara rinci, tapi tidak dapat mengancing baju.
• Pintar mengerjakan puzzle, peg, dll tetapi amat sukar mengikuti perintah
• Berjalan pada usia normal tetapi tidak berkomunikasi
• Lancar membeo bicara, tapi sulit berbicara dari diri sendiri (inisiatif komunikasi)
• Suatu waktu dapat melakukan sesuatu, tetapi tidak dilain waktu.

1.4 Identitas Kasus
Nama : Fajar Ramudi
Jenis Kelamn : Laki-laki
Tempat Tanggal Lahir : Majalengka, 1 Juli 1998
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Status di Keluarga : Anak Kandung
Alamat : Desa Waringin – Majalengka
Jenis Kelainan : Autis Ringan

Identitas Orang Tua
Nama Ayah :Sohim
Tempat / Tgl Lahir : Majalengka, 14 Januari 1968
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Dagang
Alamat : Desa Waringin – Majalengka

Nama Ibu : Een Nuraeni
Tempat / Tgl Lahir : Majalengka, 4 Agustus 1965
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SLA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Desa Waringin – Majalengka

1.5 Assesmen ( Kemampuan yang ada pada saat ini)
a. Bicara dan Bahasa : Bicaranya lancar, akan tetapi dia tidak mengerti dan memaknai apa yang dia katakan
b. Konsentrasi dan perhatian mudah beralih pada objek yang lain
c. Lancar membeo bicara, tapi sulit berbicara dari diri sendiri (inisiatif komunikasi)
d. Ritualitas pada satu benda yaitu koran
e. Sering tantrum ( mengamuk ) apabila keinginannya tidak segera di turuti
f. Cenderung menarik diri dari teman sebayanya, ingin selalu di temani ayahnya
BAB II
PERMASALAHAN

Fajar seorang anak yang dilahirkan sebagai anak terakhir dari tiga bersaudara mengalami kelainan autis. Karena keterbatasan pengetahuan dan kurangnya informasi dari keluarga fajar bahwa didekat lingkungan rumahnya ada Sekolah Luar Biasa (SLB) sehingga kondisi autis fajar baru bisa terdeteksi setelah fajar masuk keSLB dalam 1 tahun terakhir ini ketika usia fajar 9 tahun.
Adapun permasalahan yang dialami fajar adalah sebagai berikut:
a. Permasalahan dalam hal kognitif (berfikir anak)
ketika disekitar fajar terdapat koran atau bentuk bacaan lainnya misalnya acara televisi maka dengan cepatnya dia membaca semua tulisan yang ada didalamnya. Terutama sangat menggemari berita acara atau jadwal televisi yang tercantum dikoran. Akan tetapi apabila diarahkan atau diberi hal yang lain maka dia akan menolaknya. Nada suara yang datar tanapa disertai jeda dalam berbicara. Andaikan ia memperhatikan suatu benda, misalnya sebuah mobil-mobilan ia hanya memeprhatikan satu bagian saja, dan tidak bisa memainkan mainan itu sebagaimana anak-anak lainnya. Diduga fajar tergolong anak autisme yang memiliki intelegensi tinggi karena kemampuan dia yang bisa dalam membaca kata bahkan kalimat demi kalimat.
b. Bahasa dan komunikasi
Kecenderungan membeo (mengulang kata-kata) lebih besar. Ketika ada penjual eskrim lewat didepannya maka dia langsung membeo kata ”eskrim” berulangkali, karena ketidaktahuan orangtua seringkali apa yang anak ucapkan berulangkali itu segera dipenuhi orangtuanya. Padahal ini tidak boleh dibiarkan, karena akan mengakibatkan tingkat kelainan autisnya makin berat dalam arti hiperaktifnya tinggi, perhatiannya mudah beralih.
c. Mudah meniru suatu kegiatan. Misalnya ketika gurunya menulis dipapan tulis kata ”kursi”, dia menyalinnya dengan baik walaupun hurufnya besar semua ”KURSI”.

d. Permasalahan dalam hal Konsentrasi dan atensi
Fajar cenderung asyik sendiri dengan koran, tidak sadar akan lingkungannya.
e. Permasalahan dalam sosialisasi
Fajar tidak bisa bermain dengan teman sebya, ia cenderung menarik diri dari teman-temannya. Ekspresi muka yang kurang hidup disertai kontak mata yang sangat kurang.





BAB III
UPAYA PEMECAHAN MASALAH

Pada penanganan anak autistic terapi sangatlah diperlukan untuk mengoptimalkan perkembangannya. Namun perlu diingat bahwa terapi harus dimulai sedini mungkin sebelum usia 5 (lima) tahun. Hal ini dikarenakan perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia sebelum 5 (lima) tahun, puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun. Sebelum kita menangani anak autisme terlebih dahulu harus memperhatikan unsur-unsur sebagai berikut :
1. Mengamati perilaku anak secara mendalam
2. Mengetahui riwayat perkembangannya
3. Pemeriksaan medis (kerja sama dengan dokter, psikolog)
4. Melakukan terapi wicara dan perilaku

Salah satu Upaya dalam memecahkan permasalahan yang dialami oleh fajar adalah sebagai berikut :

MEMBACA KORAN PELANGI
Dengan mengajak fajar untuk membaca koran. Hal ini karena minat fajar yang terbatas pada bacaan. Tentunya kita sedikit memberikan hal yang berbeda dengan bacaan yang tercantum dalam koran itu, ada sedikit bacaan yang kita tempeli dengan bentuk bulat berwarna variasi dari mulai merah, biru, kuning dan sebagainya. Hal ini untuk mengajarkan anak konsep warna. Selain itu bisa kita tambahkan bentuk binatang atau hal yang lainnya agar fajar tidak hanya membaca kata saja tapi memahami konsep warna yang ada.

Contohnya:

Merah Biru


BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Setiap individu sudah pasti memiliki masalah dalam kehidupannya, namun masalah setiap individu tentu saja berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk mampu memahami masalah yang dihadapi oleh anak tidaklah mudah, memerlukan kecermatan dalam mengumpulkan data dan informasi yang sebanyak-banyaknya, ketelitian dalam menganalisis data/informasi sehingga tepat dalam menentukan kategori masalah.
Permasalahan yang dialami fajar dengan kelainan autis yang dialaminya tentu memerlukan perhatian yang khusus dan memerlukan metode yang bervariasi dalam upaya penanganannya. Sehingga dapat meminimalisir tingkat autis yang dialaminya.

4.2 Rekomendasi
Dari kesimpulan yang telah dipaparkan, maka ada beberapa rekomendasi yang tujukan kepada :
1. guru
Dasar semua pendidikan adalah kasih sayang yang murni tanpa pamrih (Seperti kasih seorang ibu kepada anaknya dan tidak memanjakan anak). Guru harus memiliki rasa empati dan respek kepada anak. Jangan sekali-kali memandang anak sebagai suatu benda/hewan ataupun sebagai anak bodoh, sekalipun diantara anak-anak ini ada juga yang memiliki intelegensi dibawah normal
2. orangtua
Diharapkan agar mendukung program yang ada di sekolah dengan melatih anak dirumah apa yang telah dilatih dan dipelajari di SLB. Karena bila hanya di Sekolah saja yang berusaha membelajarkan anak maka anak akan mengalami hambatan untuk maju dan berkembang. Selain itu orang tua anak autistic harus menangani anak mulai anak bangun pagi sampai anak tidur Lagi, karena anak-anak ini tidak boleh dibiarkan sendiri dan harus selalu ditemani secara interaktif, hanya dengan demikian kita dapat mengisi kekurangan perilakunya dan menghilangkan perilaku buruknya, serta menjadikannya “Normal” kembali.