Senin, 09 Januari 2012

Alternatif peningkatan layanan pendidikan dan latihan bagi ATR



  1. Bk bagi ATR
  2. Latihan-latihan bagi ATR
  3. Evaluasi bagi siswa tunarungu
  4. Alat evaluasi
  5. Pengolahan, pendekatan dan penilaian

Bimbingan dan konseling bagi ATR
Suatu usaha untuk mempersiapkan ATR agar dapat mencapai kondisi yang optimal dalam proses pendidikan serta mampu menghadapi tuntutan yang datang dari masyarakat.

Tujuan BK ATR
Untuk mengembangkan potensi setiap ATR sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Bimbingan komunikasi kepada ATR
Bertujuan untuk membuka dan memperlancar komunikasi terhadap ATR. Hal ini merupakan langkah utama dalam melaksanakan pendidikan mereka. Sehingga akan memperlancar pencapaian tujuan bimbingan yang akan dilakukan dilingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Bimbingan dilingkungan keluarga
Bertujuan unt mengarahkan pergaulan, menanamkan rasa tanggung jwb, latihan memahami perintah, ajakan, mengungkapkan pendapat, dan rasa empati. Ortu merupakan pembimbing utama. Ortu hrs selalu membiasakan diri unt selalu bertindak sebagai pendidik

Bimbingan di lingkungan sekolah
Bertujuan untuk dapat mentaati tata tertib, disiplin, hubungan sosial dgn teman, tanggung jwb terhadap tugas sekolah baik individu maupun kelompok, sopan santun serta kebiasaan-kebiasaan yang baik. Dilakukan oleh guru di sekolah. Tetapi biasanya terkendala oleh waktu yg dipunyai oleh seorang guru unt melakukan bimbingan secara individual

Bimbingan dilingk masyarakat
bertujuan agar ATR mampu berkomunikasi pd link masyarakat. Dapat dilakukan pada saat pertandingan olah raga, pementasan seni, pameran, dan perkemahan. Atau pada kegaiatan yg insidental, seperti upacara perkawinan, khitanan dll. Kegiatan ini perlu peran serta guru, ortu dan masyarakat

Bimbingan pribadi kepada ATR
Bertujuan agar ATR dapat mengenal dirinya, menyadari kemampuan serta kekurangannya.Sehingga ATR mempunyai sikap yg positif terhadap keadaan dirinya, mempunyai kemauan unt belajar dan bekerja, tidak merasa rendah diri serta memiliki kestabilan emosi

Bimbingan pekerjaan kepada ATR
Bertujuan agar ATR pada akhirnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya dan yang cocok dengan kepribadiannya, agar mereka merasa mantap dalam bekerja dan mereka dapat menikmati hidupnya.

Latihan-latihan bagi ATR
1.      Latihan indera unt bahasa
      - latihan mendengar tanpa alat
      - latihan mendengar dgn alat
2. Latihan birama
3. Latihan peregangan dan pernafasan
Latihan mendengar tanpa alat
      ATR hrs belajar hidup dlm dunia suara. Dgn latihan mendengar merekaakan menikmati suara walaupun dlm bentuk getaran. Namun hal tersebut akan mempengaruhi gairah hidup ATR
      Bunyi bahasa hrs menjadi unsur yg nyata. Mereka tdk hanya membaca gerak bibir seseorang yg ternyata mempunyai arti. Tetapi juga mengetahui bunyi bahasa dibentuk

Tahap latihan mendengar tanpa alat
      Tahap I
latihan untuk membedakan ada suara atau tidak khususnya untuk anak yg baru masuk sekolah
      Tahap II
            membedakan pa atau papapa dgn ra atau rarara atau kata-kata yg lain
      Tahap III
            bagi anak yg sudah memiliki bahasa, mulai dgn latihan membedakan kata dgn kalimat. Gunakan kata yg sdh dberikan
      Tahap IV
            membedakan kalimat pendek dgnkalimat panjang yg diambil dr pelajaran hari itu
      Tahap V
            membedakan kalimat yg sama panjang tetapi berbeda kata-katanya
            Tahap VI
            membedakan kalimat tanya dengan kalimat berita
      Tahap VII
membedakan kalimat berita dengan kalimat tanya tetapi tdk menggunakan tanda tanya. Jadi yg dibedakan adalah lagu kalimat.
      Tahap VIII
            memberikan pertanyaan yg sudah dipelajari bersama-sama
      Tahap IX
            menyimak suatu bacaan guru dan anak-anak hrs mengikuti sampai dimana anak berhenti membaca
      Tahap X
            anak mendengarkan guru bericara secara runtut. Dan anak menirukannya
      Tahap XII
            anak berlatih memperhatikan tekanan kalimat. Dan menirukannya

Latihan mendengar dng alat
Latihan ini diberikan agar ATR yg berat mampu menyadari dan merasakan adanya bunyi. Sedangakan ATR ringan mampu mendengar bunyi. Jika ingin melatih tinggi rendahnya bunyi alatnya adalah organ, pianika, suling. Untuk melatih suara yg besar dan bergema gunakan tambur, gong, tambur atau bass. 

Langkah latihan mendengar dgn alat
      Anak menempelkan tangan pada alat, guru membunyikan alat tersebut
      Setiap anak diminta untuk memainkan alat tersebut
      Anak diminta mengelilingi alat dan guru menjelaskan bunyi alat tersebut
      Anak diminta memainkan alat tersebut dan memberikan isyarat kalau merasakan getaran
      Anak secara bergiliran diminta mencoba sendiri alat tersebut
      Anak diminta unt membelakani guru dan alat. Jika anak merasakan adanya getaran atau suara memberikan isyarat. Jika tdk ada anak diam


Latihan membedakan bunyi dua macam alat
      Anak hrs dijelaskan dulu kalau latihan hari ini tentang membedakan bunyi dua macam alat
      Anak diminta unt memperhatikan guru ketika membunyikan alat
      Anak diminta untuk membedakan dan menyebutkan yg dirasakan dan didengar

Latihan birama
      Birama 2/4
      Birama 3/4
      Birama 4/4

Latihan peregangan dan pernafasan
      Tujuan dr latihan peregangan adalah unt menghilangkan ketegangan otot-otot yg tidak berguna dan mengendalikan otot-otot yg digerakkan waktu bersuara, supaya alat suara tdk tegang
      Tujuan dari latihan pernafasan adalah agar pernafasan anak pada waktu bicara dpt berlangsung baik dan teratur

Fungsi dan tujuan penilaian
      Untuk mengetahui tingkat pencapain siswa terhadap materi yg telah diajarkan
      Untuk mendapatkan umpan balik dr siswa agar dpt memperbaiki KBM dan merencanakan program selanjutnya
      Menemukan angka kemajuan masing-masing siswa
      Menempatkan siswa pd situasi belajar mengajar yg tepat
      Untuk mengetahui latar belakang (psikologis, fisik, dan Link) siswa yg mengalami kesulitan belajar

Jenis dan fungsi evaluasi
      Penilaian formatif, dilakukan pd setiap akhir pokok bahasan unt memperbaiki program satuan pelajaran
      Penilaian sumatif, dilakukan setiap semester, unt menentukan nagka hasil belajar siswa
      Penilaian penempatan (placement) unt menempatkan siswa dlm situasi belajar yg tepat
      Penilaian diagnostik, unt membantu anak yg mengalami kesulitan belajar

Cara dan tehnik penilaian
Cara Penilaian
            1) cara kuantitatif, dlm bentuk angka (70, 80, 100)
            2) cara kualitatif, dlm bentuk pernyataan (baik, cukup, kurang)
b. Tehnik penilaian
            1) tehnik tes, unt menilai kemampuan siswa yg  mencakup pengetahuan dan
    keterampilan
            2) tehnik non tes, unt menilai karakteristik siswa (minat, sikap, dan kepribadian)

Tes
Suatu pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yg direncanakan untuk memperoleh informasi atribut pendidikan atau psikologi yg setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yg dianggap benar

Ragam tipe tes
  1. Tipe tes uraian terbatas
            a) uraian singkat
            b) melengkapi
            c) uraian
  1. Tipe tes uraian bebas
            a) uraian bebas sederhana
            b) uraian ekspresif
3)      Tipe tes obyektif benar salah
            a) benar salah sederhana
            b) benar salah koreksi
4. Tipe tes obyektif menjodohkan
            a) menjodohkan sederhana
            b) menjodohkan hubungan sebab akibat
5)      Tipe tes obyektif pilihan ganda
            a) pilihan ganda biasa
            b) pilhan ganda hubungan antar hal
            c) pilihan ganda analisis kasus
            d) pilihan ganda kompleks
            e) pilihan ganda memilih diagram

pengukuran
Pemberian angka, atribut, atau karakteristik tertentu yg dimiliki oleh orang, hal atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yg jelas

penilaian
suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instrumen tes maupun nontes.

Minggu, 01 Januari 2012

faktor kesulitan belajar menurut Cooney, Davis & Henderson


Para ahli seperti Cooney, Davis &
Henderson (1975) telah mengidentifikasikan beberapa faktor penyebab kesulitan
tersebut, di antaranya:
1. FAKTOR FISIOLOGIS
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait
dengan kurang berfungsinya otak, susunan syaraf ataupun bagian-bagian
tubuh lain. Para guru harus menyadari bahwa hal yang paling berperan
pada waktu belajar adalah kesiapan otak dan sistem syaraf dalam
menerima, memroses, menyimpan, ataupun memunculkan kembali
informasi yang sudah disimpan. Kalau ada bagian yang tidak beres pada
bagian tertentu dari otak seorang siswa, maka dengan sendirinya si siswa
akan mengalami kesulitan belajar. Bayangkan kalau sistem syaraf atau otak
anak kita karena sesuatu dan lain hal kurang berfungsi secara sempurna.
Akibatnya ia akan mengalami hambatan ketika belajar. Di samping itu,
siswa yang sakit-sakitan, tidak makan pagi, kurang baik pendengaran,
penglihatan ataupun pengucapannya sedikit banyak akan menghadapi
kesulitan belajar. Untuk menghindari hal tersebut dan untuk membantu
siswanya, seorang guru hendaknya memperhatikan hal-hal yang berkait
dengan kesulitan siswa ini. Seorang siswa dengan pendengaran ataupun
penglihatan yang kurang baik, sebaiknya menempati tempat di bagian
depan. Untuk para orang tua, terutama ibu, makanan selama masa
kehamilan akan sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik
putra-putrinya . Makanan yang dapat membantu pertumbuhan otak dan
sistem syaraf bayi yang masih di dalam kandungan haruslah menjadi
perhatian para orang tua.

2. FAKTOR SOSIAL
Merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah jika orang tua dan
masyarakat sekeliling sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kegiatan
belajar dan kecerdasan siswa sebagaimana ada yang menyatakan bahwa
sekolah adalah cerminan masyarakat dan anak adalah gambaran orang
tuanya. Oleh karena itu ada beberapa faktor penyebab kesulitan belajar
yang berkait dengan sikap dan keadaan keluarga serta masyarakat
sekeliling yang kurang mendukung siswa tersebut untuk belajar sepenuh
hati. Sebagai contoh, orang tua yang sering menyatakan bahwa Bahasa
Inggris adalah bahasa setan (karena sulit) akan dapat menurunkan
kemauan anaknya unutuk belajar bahasa pergaulan internasional itu. Kalau
ia tidak menguasai bahan tersebut ia akan mengatakan “ Ah Bapak saya
tidak bisa juga.” Untuk itu, setiap guru tidak seharusnya menyatakan
sulitnya mata pelajaran tertentu di depan siswanya. Tetangga yang
mengatakan sekolah tidak penting karena banyak sarjana menganggur,
masyarakat yang selalu minum-minuman keras dan melawan hukum, orang
tua yang selalu marah, nonton TV setiap saat, tidak terbuka ataupun
kurang menyayangi anaknya dengan sepenuh hati dapat merupakan contoh
dari beberapa faktor sosial yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa.
Intinya, lingkungan di sekitar siswa harus dapat membantu mereka untuk
belajar semaksimal mungkin selama mereka belajar di sekolah. Dengan
cara seperti ini, lingkungan dan sekolah akan membantu para siswa,
harapan bangsa ini untuk berkembang dan bertumbuh menjadi lebih
cerdas. Siswa dengan kemampuan cukup seharusnya dapat dikembangkan
menjadi siswa berkemampuan baik, yang berkemampuan kurang dapat
dikembangkan menjadi berkemampuan cukup. Sekali lagi, orang tua, guru,
dan masyarakat, secara sengaja atau tidak sengaja, dapat menyebabkan
kesulitan bagi siswa. Karenanya, peran orang tua dan guru dalam
membentengi para siswa dari pengaruh negatif masyarakat sekitar, di
samping perannya dalam memotivasi para siswa untuk tetap belajar
menjadi sangat menentukan.

3. FAKTOR KEJIWAAN
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait
dengan kurang mendukungnya perasaan hati (emosi) siswa unutuk belajar
secara sungguh-sungguh. Sebagai contoh, ada siswa yang tidak suka mata
pelajaran tertentu karena ia selalu gagal mempelajari mata pelajaran itu.
Jika hal ini terjadi, siswa tersebut akan mengalami kesulitan belajar yang
sangat berat. Hal ini merupakan contoh dari faktor emosi yang
menyebabkan kesulitan belajar. Contoh lain adalah siswa yang rendah diri,
siswa yang ditinggalkan orang yang paling disayangi dan menjadikannya
sedih berkepanjangan akan mempengaruhi proses belajar dan dapat
menjadi faktor penyebab kesulitan belajarnya. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa anak yang dapat mempelajari suatu mata pelajaran dengan baik
akan menyenangi mata pelajaran tersebut. Begitu juga sebaliknya, anak
yang tidak menyenangi suatu mata pelajaran biasanya tidak atau kurang
berhasil mempelajari mata pelajaran tersebut. Karenanya, tugas utama
yang sangat menentukan bagi seorang guru adalah bagaimana membantu
siswanya sehingga mereka dapat mempelajari setiap materi dengan baik.
Yang perlu mendapatkan perhatian juga, hukuman yang diberikan seorang
guru dapat menyebabkan siswanya lebih giat belajar, namun dapat juga
menyebabkan mereka tidak menyukai guru mata pelajaran tersebut. Dapat
juga terjadi, si siswa lalu membenci sama sekali mata pelajaran yang diasuh
guru tersebut. Kalau hal seperti ini yang terjadi, tentunya akan sangat
merugikan si siswa tersebut. Peran guru memang sangat menentukan.
Seorang siswa yang pada hari kemarinnya hanya mampu mengerjakan 3
dari 10 soal dengan benar, lalu dua hari kemudian ia hanya mampu
mengerjakan 4 dari 10 soal dengan benar, gurunya harus menghargai
kemajuan tersebut. Guru hendaknya jangan hanya melihat hasilnya saja,
namun hendaknya menghargai usaha kerasnya. Dengan cara seperti ini,
diharapkan si siswa akan lebih berusaha lagi. Intinya, tindakan seorang guru dapat mempengaruhi perasaan dan emosi siswanya. Tindakan
tersebut dapat menjadikan seorang siswa menjadi lebih baik, namun dapat
juga menjadikan seorang siswa menjadi tidak mau lagi untuk belajar suatu
mata pelajaran.

4. FAKTOR INTELEKTUAL
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait
dengan kurang sempurna atau kurang normalnya tingkat kecerdasan siswa.
Para guru harus meyakini bahwa setiap siswa mempunyai tingkat
kecerdasan berbeda. Ada siswa yang sangat sulit menghafal sesuatu, ada
yang sangat lamban menguasai materi tertentu, ada yang tidak memiliki
pengetahuan prasyarat dan juga ada yang sangat sulit membayangkan dan
bernalar. Hal-hal yang disebutkan tadi dapat menjadi faktor penyebab
kesulitan belajar pada diri siswa tersebut. Di samping itu, hal yang perlu
mendapatkan perhatian adalah para siswa yang tidak memiliki pengetahuan
prasyarat. Ketika sedang belajar matematika atau IPA, ada siswa SLTP yang
tidak dapat menentukan hasil 1/2 + 1/3, (–5) + 9, ataupun 1 : ½. Siswa
seperti itu, tentunya akan mengalami kesulitan karena materi terebut
menjadi pengetahuan prasyarat untuk mempelajari matematika ataupun
IPA SLTP. Untuk menghindari hal tersebut, Bapak atau Ibu Guru hendaknya
mengecek dan membantu siswanya menguasai pengetahuan prasyarat
tersebut sehingga mereka dapat mempelajari materi baru dengan lebih
baik.

5. FAKTOR KEPENDIDIKAN
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait
dengan belum mantapnya lembaga pendidikan secara umum. Guru yang
selalu meremehkan siswa, guru yang tidak bisa memotivasi siswa untuk
belajar lebih giat, guru yang membiarkan siswanya melakukan hal-hal yang
salah, guru yang tidak pernah memeriksa pekerjaan siswa, sekolah yang
membiarkan para siswa bolos tanpa ada sanksi tertentu, adalah contoh dari
faktor-faktor penyebab kesulitan dan pada akhirnya akan menyebabkan
ketidak berhasilan siswa tersebut.
Berdasar penjelasan di atas, Bapak dan Ibu Guru sudah seharusnya
menyadari akan adanya beberapa siswa yang mengalami kesulitan atau kurang
berhasil dalam proses pembelajarannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor
tertentu, sehingga mereka tidak dapat belajar dan kurang berusaha sesuai
dengan kekuatan mereka. Idealnya, setiap guru harus berusaha dengan sekuat
tenaga untuk membantu siswanya keluar dari setiap kesulitan yang
menghimpitnya. Namun hal yang perlu diingat, penyebab kesulitan itu dapat
berbeda-beda. Ada yang karena faktor emosi seperti ditinggal saudara kandung
tersayang ataupun karena faktor fisiologis seperti pendengaran yang kurang.
Untuk itu, para guru harus mampu mengidentifikasi kesulitan dan penyebabnya
lebih dahulu sebelum berusaha untuk mencarikan jalan pemecahannya.
Pemecahan masalah kesulitan belajar siswa sangat tergantung pada
keberhasilan menentukan penyebab kesulitan tersebut. Sebagai contoh, siswa A
yang memiliki kesulitan karena penglihatan atau pendengaran yang kurang
sempurna hanya dapat dibantu dengan alat optik atau alat elektronik tertentu
dan mereka diharuskan duduk di bangku depan. Namun para siswa yang
mengalami kesulitan belajar karena faktor lingkungan dan faktor emosi tidak
memerlukan kacamata seperti yang dibutuhkan siswa A namun mereka
membutuhkan bantuan dan motivasi lebih dari gurunya. Pengalaman sebagai
guru telah menunjukkan bahwa ada siswa yang sering membuat ulah di kelas
dengan maksud agar diperhatikan guru dan temannya. Setelah diselidiki ternyata
ia kurang mendapat perhatian orang tuanya. Untuk anak seperti ini, sudah
seharusnya para guru lebih memberikan perhatian dan kasih sayang. Sekali lagi,
kesabaran, ketekunan dan ketelatenan para guru sangat diharapkan di dalam
menangani siswa yang mengalami kesulitan belajar. Guru dapat menyarankan
orang tua siswa tertentu untuk memberi tambahan pelajaran khusus di sore hari
untuk siswa yang lamban. Yang lebih penting dan sangat menentukan adalah
peran guru pemandu, kepala sekolah, pengawas maupun Kepala Kantor
Depdiknas di dalam menangani kesulitan belajar siswa yang disebabkan oleh
faktor-faktor kependidikan. Pada akhirnya penulis meyakini bahwa pengetahuan
tentang faktor-faktor penyebab kesulitan belajar ini akan sangat bermanfaat bagi
Bapak dan Ibu Guru. Dengan membaca tulisan ini, diharapkan para guru akan
mengetahui, selanjutnya dapat menggunakan pengetahuan tersebut dalam PBM
terutama ketika ia sedang mendiagnosis kesulitan belajar siswa. Pada akhirnya,
mudah-mudahan usaha setiap jajaran Depdiknas untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa akan berhasil dengan gemilang.

Daftar Pustaka :
Cooney, T.J., Davis, E.J., Henderson, K.B. (1975). Dynamics of Teaching
Secondary School Mathematics. Boston : Houghton Mifflin Company.

Rabu, 14 Desember 2011

Teori Belajar Behavioristik

Teori Belajar Behavioristik
Pandangan tentang belajar :
Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi
berdasarkan paradigma S-R (stimulus- respon)
Ciri-ciri teori belajar behavioristik :
a.Mementingkan pengaruh lingkungan
b.Mementingkan bagian-bagian ( elementalistik )
c. Mementingkan peranan reaksi.
d.Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar.
e.Mementingkan sebab-sebab di waktu yang lalu,
f. Mementingkan pembentukan kebiasaan, dan
g. dalam pemecahan problem, ciri khasnya “trial and
error”.
Termasuk teori belajar behavioristik:
1. Teori belajar koneksionisme dengan tokoh Edward
Lee Thorndike.
2. Teori belajar classical conditioning dengan tokoh
Pavlov.
3. Teori belajar Descriptive behaviorism atau operant
conditioning dengan tokoh Skinner.
1. Teori Belajar Koneksionisme
Belajar dapat terjadi dengan dibentuknya hubungan
yang kuat antara stimulus dan respons. Agar tercapai
hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya
kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta
melalui percobaan-percobaan ( trials ) dan kegagalankegagalan
( error ) terlebih dahulu.
2
Hukum-hukum Belajar dari Thorndike
Ada tiga hukum dasar ( hukum primer ) dan lima hukum
tambahan. Adapun hukum dasar dari Thorndike adalah
sebagai berikut :
1. Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
a. Bila seseorang telah siap melakukan sesuatu tingkah
laku, dan memberi kepuasan baginya, maka ia tidak
melakukan tingkah laku lain.
b. Bila seseorang sudah siap melakukan suatu tingkah
laku, maka tidak dilakukannya tingkah laku itu akan
menimbul kekecewaan.
c. Bila seseorang belum siap melakukan tingkah laku
maka dilaksanakannya tingkah laku tersebut akan
menimbulkan ketidak puasan.
d. Bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah
laku maka tidak dilakukannya tingkah laku tersebut
akan menimbulkan kepuasan.
2. Hukum latihan ( the law of exercise )
Prinsip utama belajar adalah ulangan. Makin sering
suatu pelajaran diulangi, makin dikuasailah pelajaran
tersebut, dan makin tidak pernah diulangi, pelajaran
tersebut makin tidak dapat dikuasai.
Terdiri dari :
A. Hukum penggunaan ( “the law of use” )
Dengan latihan berulang-ulang maka hubungan
stimulus dan respons makin kuat.
3
B. Hukum tidak ada penggunaan ( “the law of
disuse” )
Bahwa hubungan antara stimulus dan respon
melemah bila latihan dihentikan
3. Hukum akibat ( the law of effect )
Hubungan stimulus respon diperkuat bila akibatnya
memuaskan dan diperlemah bila akibatnya tidak
memuaskan.
Lima Hukum Tambahan Thorndike
a) Multiple Respons atau reaksi yang bervariasi. Melalui
proses trial and error seseorang akan terus melakukan
respons sebelum memperoleh respon yang tepat dalam
memecahkan masalah yang dihadapi.
b) Set atau attitude, situasi di dalam diri individu yang
menentukan apakah sesuatu itu menyenangkan atau tidak
bagi individu tersebut. Proses belajar berlangsung dengan
baik bila situasi menyenangkan dan terganggu bila situasi
tidak menyenangkan.
c) Prinsip aktivitas berat sebelah (partial
activity/prepotency of elements) yaitu manusia
memberikan respons hanya pada aspek tertentu. Dalam
belajar harus diperhatikan lingkungan yang sangat komplek
yang dapat memberi kesan berbeda untuk orang yang
berbeda.
d) Prinsip Response by analogy atau transfer of training.
Yaitu manusia merespon situasi yang belum pernah dialami
melalui pemindahan ( transfer ) unsur-unsur yang telah
mereka kenal kepada situasi baru. Dikenal dengan theory of
identical elements yang menyatakan bahwa makin banyak
unsur yang identik, maka proses transfer semakin mudah.
4
e)Perpindahan asosiasi ( Associative Shifting ). Yaitu
proses peralihan suatu situasi yang telah dikenal ke situasi
yang belum dikenal secara bertahap, dengan cara
menambahkan sedikit demi sedikit unsur-unsur ( elemen )
baru dan membuang unsur-unsur lama sedikit demi sedikit
sekali sehingga unsur baru dapat dikenal dengan mudah oleh
individu.
4. Revisi Hukum Belajar dari Thorndike
a.Hukum latihan ditinggalkan, karena ditemukan bila
pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat
hubungan stimulus dengan respons.
b.Hukum akibat (the law of effect) direvisi, ditemukan
bahwa hadiah (reward) akan meningkatkan hubungan,
tetapi hukuman (punisment) tidak mengakibatkan
efek apa-apa.
c. Belongingness, yaitu terjadinya hubungan stimulusrespon
bukannya kedekatan, tetapi adanya saling
sesuai antara kedua hal tersebut. Situasi belajar akan
mempengaruhi hasil belajar.
d. Spread of effect, yaitu bahwa akibat dari suatu
perbuatan dapat menular.
5
5. Penerapan Teori Belajar Koneksionisme
a.Guru dalam proses pembelajaran harus tahu apa
yang hendak diberikan kepada siswa.
b.Dalam proses pembelajaran, tujuan yang akan
dicapai harus dirumuskan dengan jelas, masih
dalam jangkauan kemampuan siswa.
c. Motivasi dalam belajar tidak begitu penting, yang
lebih penting ialah adanya respon-respons yang
benar terhadap stimuli.
d.Ulangan yang teratur perlu sebagai umpan balik
bagi guru, apakah proses pembelajaran sudah
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau belum.
e. Siswa yang sudah belajar dengan baik segera
diarahkan.
f. Situasi belajar dibuat mirip dengan kehidupan nyata,
sehingga terjadi transfer dari kelas ke lingkungan
luar.
g.Materi pembelajaran yang diberikan harus dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
h. Tugas yang melebihi kemampuan peserta didik
tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam
memecahkan permasalahannya.
6
II. Teori belajar classical conditioning
Eksperimen Pavlov dapat diterangkan berikut ini :
US ___________________ UR
CS1+ US1 ___________________ UR1
CS2+ US2 ___________________ UR2
CS3+ US3 ___________________ UR3
CS32+US32 ___________________ UR32
CSn ____________________ CRn
Keterangan :
1. US (unconditioned stimulus) : Stimulus tidak
dikondisikan yaitu stimulus yang langsung
menimbulkan respon, misalnya daging dapat
merangsang anjing untuk mengeluarkan air liur.
2. UR (unconditioned respons) : respon tak bersyarat,
yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US,
misalnya air liur anjing keluar karena anjing melihat
daging.
3. CS (conditioning stimulus) : stimulus bersyarat,
yaitu stimulus yang tidak dapat langsung
menimbulkan respon, agar dapat menimbulkan
respon perlu dipasangkan dengan US secara terus
menerus agar menimbulkan respon. Misalnya Bunyi
bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air liur
jika selalu dipasangkan dengan daging.
4. CR (conditioning respons) : respons bersyarat, ,
yaitu respon yang muncul dengan hadirnya CS.
Misalnya : air liur anjing keluar karena anjing
mendengar bel.
7
Kemungkinan proses yang menyertai :
1. Proses extinction yaitu proses hilangnya respons
yang diharapkan. Terjadi apabila pemberian CS
tanpa adanya US terus-menerus diberikan sehingga
kadar CR makin menurun, dan dapat hilang sama
sekali.
2. Spontaneous recovery, yaitu CR yang hilang
setelah extinction akan muncul kembali apabila US
diberikan lagi.
3. Asimtot kurve belajar, yaitu keadaan dimana
pengulangan CS-US tidak menyebabkan
penambahan kekuatan CR (Tingkat CR stabil).
4. Generalisasi, yaitu kecenderungan organisme
memberi respon tidak hanya pada stimulus yang
dilatihkan, tetapi juga pada stimulus lain yang
berhubungan, misalnya anjing yang dilatih untuk
mengeluarkan air liur dengan cara mendengar nada
tertentu, setelah berhasil dia juga mengeluarkan air
liur kalau mendengarkan nada yang lebih tinggi atau
lebih rendah.
5. Diskriminasi yaitu keadaan organisme hanya
memberi respon pada stimulus tertentu, sehingga
tidak memberi respon pada stimulus yang lain,
walaupun stimulus tersebut berhubungan dangan
stimulus sebelumnya.
6. Conditioning tingkat tinggi (higher order
conditioning), yaitu conditioning yang sangat tinggi
dimana CS dipasangkan dengan CS lain sudah
menimbulkan respon yang diinginkan.
8
Penerapan teori conditioning dalam belajar
Kalau mata pelajaran termasuk CS, sikap guru termasuk
US, dan respon siswa termasuk UR atau CR, maka akan
terjadi hal sebagai berikut :
1. Mata pelajaran Matematika ( CS ) + guru yang baik
(US)  siswa mempunyai respon positif (UR), yang
berarti siswa senang pada cara guru mengajar
matematika dengan baik. Kalau hal ini dilakukan
berkali-kali, maka akan terjadi : mata pelajaran
Matematika (CS)  siswa mempunyai respon
positif terhadap mata pelajaran Matematika (CR).
2. Matematika (CS) + guru otoriter (US)  respons
siswa negatif (UR). Kalau hal ini dilakukan berkalikali,
maka akan terjadi hal sebagai berikut : mata
pelajaran matematika (CS) respons siswa
terhadap mata pelajaran matematika negatif (CR).
Teori belajar operant conditioning
(Skinner)
Ada dua macam respons, yaitu :
1.Respondent respons, yaitu respons yang ditimbulkan
oleh perangsang tertentu. Respon ini timbul karena
didahului perangsang tertentu (eleciting stimuli),
menimbulkan respons secara relatif menetap.
Misalnya makanan hanya dapat menyebabkan
keluarnya air liur.
2.Operant respons atau instrumental respons.
Perangsangnya disebut reinforcer yaitu respon yang
timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangperangsang
tertentu. Respons ini memperkuat
respons yang telah dilakukan oleh organisme.
9
Jadwal reinforcer Skinner
1.Continuous reinforcer ( CRF ), Dalam CRF, setiap
respons ada reinforcer / reward.
2. Fixed interval reinforcer ( FI )
Setiap interval waktu tertentu, secara fix diberi hadiah /
reinforcer. Misalnya, setiap tiga menit, diberi hadiah,
sehingga interval waktunya sebagai berikut : 3 menit
 6 menit  9 menit  12 menit dan seterusnya.
3. Fixed ratio reinforcer (FR), setiap perbandingan yang
fix, diberi hadiah. Misalnya, setiap tiga kali tikus
menekan tombol, diberi hadiah satu. Setiap enam kali
tikus menekan tombol diberi hadiah dua kali lipat,
setiap tikus menekan tombol sembilan kali, diberi
hadiah tiga kali lipat, dan seterusnya.
4. Variabel interval reinforcer ( VI ), pada VI, tiap waktu
bermacam-macam, diberi hadiah.
5. Variabel ratio reinforcer ( CR ), setiap berapa kali tidak
tentu, diberi hadiah. Jadi kadang-kadnag diberi hadiah
dan kadang-kadang tidak diberi hadiah dalam waktu
yang tidak tentu.
Dari berbagai jadwal pemberian reinforcer ini,
ternyata kecepatan berespons paling tinggi, ialah VR,
kemudian FR, selanjutnya VI, berikutnya FI, dan yang
paling tidak cepat ialah CRF.
10
b. Penerapan Teori Skinner dalam belajar
1.Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada
siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang
belajar.
3.Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4.Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan
aktivitas sendiri.
5.Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan
hukuman. Untuk ini lingkungan perlu diubah, untuk
menghindari adanya hukuman.
6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah,
dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya
jadwal variable rasio reinforcer.
7.Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
3. Teori Belajar Humanistik
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar
dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut
pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik ialah :
Membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik
dan mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri.
Tokoh penting teori belajar humanistik:
a. Arthur Combs
b. Abraham Maslow
c. Carl Rogers.
11
a. Belajar menurut Arthur Combs
Bahwa dalam memahami perilaku orang kita harus
mencoba memahami dunia persepsi orang
tersebut. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain
hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk
melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan
kepuasan baginya.
b. Belajar Menurut Maslow
Asumsi dasar : bahwa manusia memiliki
1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
2. Kekuatan untuk melawan atau menolak
perkembangan itu(Maslow,1968).
Hirarki Kebutuhan Maslow
Kebutuhan
Estetis
Kebutuhan Untuk Tahu
dan Mengerti
Kebutuhan aktualisasi Diri
Kebutuhan Harga Diri
Kebutuhan Memiliki dan Cinta
Kebutuhan Keamanan
Kebutuhan Jasmaniah
Growth
Need
Deficiency
Need
12
c. Belajar Menurut Rogers
Yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah
pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan
pembelajaran, yaitu :
1.Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar
untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal
yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi
dirinya
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti
mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai
bagian yang yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern
berarti belajar tentang proses
Prinsip-prinsip Dasar Humanistik, Dalam
buku Rogers “Freedom To Learn”
a.Manusia itu mempunyai kemampuan belajar alami.
b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi
pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi
tujuan sendiri.
c. Belajar menyangkut perubahan persepsi mengenai
diri sendiri dianggap mengancam dan cenderung
ditolak.
d. Tugas belajar yang mengancam diri lebih mudah
dirasakan dan diasimilasikan bila ancaman dari luar
itu semakin kecil.
13
e. Bila ancaman terhadap diri siswa rendah,
pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara
dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan
melakukannya.
g. Belajar diperlancar dengan melibatkan aktivitas
siswa dan tanggung jawabnya.
h. Belajar atas inisiatif siswa sendiri dan melibatkan
pribadi siswa seutuhnya merupakan cara yang
dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan,
kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa
dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya
sendiri.
j. Belajar yang paling berguna secara sosial adalah
belajar mengenai proses belajar.